masih ada segurat Cahaya jinngga
KOMPAS.com - Berbagai komentar miring dan
justifikasi negatif kerap menerpa para guru. Peningkatan kesejahteraan
melalui berbagai tunjangan seperti yang diklaim pemerintah pusat dan
daerah menjadi senjata utama untuk menuding para guru jika terjadi
persoalan yang terkait langsung dengan pendidikan di sekolah.
Memang
tak bisa dipungkiri, bahwa banyak guru juga yang berulah. Namun,
Awaludin Aryanto mau mengajak kita untuk tidak melakukan generalisasi.
Pasalnya,
para guru yang ditemuinya saat mengikuti program Indonesia Mengajar di
SDN 22 Inp Rura, Sambabo, Ulumanda, Majene berbeda.
Perjuangan
mereka untuk mengajar tidak mudah. Jarak dan keterbatasan fasilitas bisa
saja menggoyahkan semangat. Pun demikian, bertahun-tahun tugas itu
tetap dilakukan dengan setia.
“Kamu sekarang enak, naik motor
paling hanya 15 menit. Dulu paling tidak butuh setengah hari untuk
berjalan sampai Rura," kata seorang guru.
Mungkin memang masih
banyak yang buta huruf di tempat mereka mengajar, namun bisa jadi ini
sudah jauh lebih baik daripada keadaan di saat mereka belum hadir di
tempat tersebut.
Mereka tetap adalah segurat cahaya jingga yang menghadirkan harapan bagi dunia ini.
"Mereka Guru Hebat"
“Tingkat kehadiran Guru di daerah terpencil sangat rendah”
“Guru daerah terpencil memang malas mengajar, mereka hanya menikmati gaji buta”
“Bagaimana anak pedalaman bisa cerdas, Gurunya tidak pernah hadir”
Dan
begitu memang kenyataan yang saya lihat pada awal mulai mengajar di SDN
Inpres 22 Rura. Kalimat-kalimat itu kuat memprovokasi. Marah. Jengah
dan kesal melihat guru yang jarang hadir. Ingin rasanya berteriak dan
menunjuk muka satu persatu Guru.
“Bapak ini bertugas mencerdaskan
anak-anak, kenapa begitu mudah melepas tanggung jawab? Menelantarkan
anak-anak yang sudah bersemangat datang ke sekolah dan membiarkan mereka
tetap dalam kebodohan?”
“Mengapa Bapak jarang hadir ke sekolah? Mana tanggung jawab Bapak sebagai Guru”
---
Namun
kemarahan itu perlahan luntur ketika mulai mengenal guru-guru dengan
lebih dekat. Tahu dimana rumahnya, kenal keluarganya, sudah lebih santai
ketika berbicara, bukan hanya sekedar topik basa-basi untuk mengusir
keheningan. Sudah pula berani untuk bermalam (bagi orang Mandar, bila
seorang tamu bermalam berarti sudah dianggap masuk sebagai anggota
keluarga).
Seperti malam itu, saya menginap di rumah Pak Kepala
Sekolah. Hadir juga menemani Pak Kaco, seorang Guru senior yang hampir
pensiun, dan Pak Rasyid, ayah angkat kedua serta Guru di SD tempat saya
mengajar.
Dan entah darimana mulanya, obrolan kami sampai kepada
bagaimana mereka mengawali karir sebagai Guru. Mulai dari masa
pendidikan di SPG Polewali, cerita saat menjadi guru honorer, bagaimana
bertemu istri, dan bagaimana masa-masa setelah diangkat menjadi PNS yang
mengajar di daerah terpencil.
Pak Kepsek mengawali cerita.
Berlatar tahun 1994, beliau mengawali karir di SD Kolehalang –daerah
transmigran yang terletak sekitar 30-an km dari Jalan Poros. Disambung
dengan Pak Kaco yang mendapatkan amanah di SD Ulumanda –titik terjauh di
Kecamatan Ulumanda, sekitar 10-20 km diatas Kolehalang.
Bila
digambarkan, seperti inilah lokasi pengabdian para Guru hebat tersebut:
Jarak antara Makassar Majene 300an km, ditambah 76 km jarak dari Majene
ke gerbang desa. Dari gerbang desa berturut-turut adalah
Rura-Sambabo-Kabiraan-Babasondong berjarak sekitar 11 km, barulah
Taukong-Kolehalang-Ulumanda sekitar 40-an km. Dan di tahun 1994, jalan
yang ada bukanlah jalan tanah berbatu seperti sekarang. Yang ada hanya
jalan setapak, atau bahkan pernah guru-guru ini merintis jalan menuju
sekolah.
“Kamu sekarang enak, naik motor paling hanya 15 menit. Dulu paling tidak butuh setengah hari untuk berjalan sampai Rura”.
Pak
Kepala sekolah dan Pak Kaco lebih parah. Perjalanan ke Kolehalang bisa
memakan waktu satu hari penuh, bahkan tidak jarang mereka menginap di
hutan. Bila berangkat mengajar, Bapak selalu membawa tas ransel untuk
perbekalan dua minggu mengajar. Ya, jujur Pak Kepsek dan Pak Kaco
mengakui mereka hanya mengajar selama dua minggu di atas. Dua minggu
sisanya mereka habiskan di bawah.
Jadi, dalam sebulan kerja Bapak hanya dua minggu melaksanakan kewajiban?
Memang,
secara kasat mata itu yang terlihat di mata kita dalam posisi sebagagai
pengamat, bukan pelaku. Pada awalnya saya-pun beranggapan begitu. “Aaah
itu sih bisa-bisanya Bapak membuat alasan”. Namun setelah bercerita
lebih jauh, ada sisi yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak
mengalaminya secara langsung.
Para guru ini sudah merelakan
sebagian hidupnya, kehilangan waktu berharga bersama keluarga tercinta
untuk mengajar di daerah terpencil. Membiarkan masa muda dan kekuatan
mereka tergerus oleh langkah-langkah kecil menembus hutan. Membagi
sedikit ilmunya untuk sedikit menghilangkan “dahaga ilmu” masyarakat
daerah terpencil. Dalam keterbatasan dan kesulitan yang seringkali tidak
pernah terbayang sama sekali.
Dua minggu mengajar dalam keadaan
seperti ini saya yakin sudah cukup menghabiskan tenaga dan pikiran para
guru. Dan sebagai manusia normal, mereka juga butuh keseimbangan dalam
hidup. Mereka juga ingin menjalankan peran lain dalam kehidupan pribadi
yang mereka miliki secara seimbang. Sebagai suami, sebagai ayah, sebagai
anak, sebagai yang lain.
Masihkah berfikir bahwa guru-guru ini pemalas dan tidak bertanggung jawab?
Mungkin
memang masih banyak yang buta huruf di tempat mereka mengajar, namun
bisa jadi ini sudah jauh lebih baik daripada keadaan disaat mereka belum
hadir disana. Semua perlu proses.
Memang, kian hari
infrastruktur di desa menjadi semakin baik. Namun itu tidak membuat
guru-guru baru tertarik mengabdi di pedalaman. Guru di pedalaman kian
hari kian berkurang. Lagi-lagi masalah kesejahteraan yang menjadi alasan
mengapa banyak yang memilih menjadi guru “Kota” daripada guru “Gunung”.
Jadi tinggallah Pak Kasman, Pak Kaco, Pak Rasyid yang walaupun sudah
semakin lemah masih merelakan dirinya untuk mengambil bagian dalam upaya
nyata membuat anak-anak tetap memiliki harapan.
Mereka terus
bergerak walaupun dikepung oleh prasangka yang mendiskreditkan
pengabdian yang sudah diperbuat. Label pemalas, pemakan gaji buta, guru
yang enggan maju tak mampu lagi menghentikan langkah guru-guru hebat
ini.
Saya hanya bisa tertegun. Saya mengaku bahwa saya baru bisa “melihat”, bukan “memahami”, bahkan “memaknai” sesuatu.
---
Pagi
pun muncul secara perlahan, sedikit demi sedikit mengubah gelap malam
menjadi terang benderang. Begitupun Pak Kasman, Pak Kaco, dan Pak
Rasyid. Mereka bukan matahari yang mampu memberi energi pada seluruh
siang. Mereka hanya segaris cahaya jingga yang membuka pagi. Tidak mampu
menerangi, namun mampu memberi harapan bagi manusia bahwa sebentar lagi
mentari hadir mengganti gelapnya malam.
Loteng atas, 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar